Kesalahan Umum Saat Welder Tidak Mengikuti WPS

Di dunia fabrikasi logam, ada sebuah dokumen yang sering dianggap sebagai “kitab suci”, yaitu Welding Procedure Specification (WPS). Namun, di lapangan, kita sering menemui pemandangan yang kontras: seorang welder berpengalaman yang merasa sudah “hafal di luar kepala” dan mulai mengandalkan insting alias feeling dibandingkan mengikuti parameter teknis yang tertulis.
Mari kita jujur: pengalaman memang guru terbaik, tetapi dalam pengelasan industri, mengabaikan WPS adalah resep jitu menuju bencana. Berikut adalah cerita teknis mengenai kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi saat prosedur mulai ditinggalkan.
1. Meremehkan Suhu Preheat dan Interpass
Bayangkan seorang welder bernama Budi. Dia mengejar deadline dan merasa pelat baja 25mm yang akan dilas sudah cukup hangat hanya karena terpapar sinar matahari. Dia melewatkan tahap preheat (pemanasan awal) yang diwajibkan WPS di suhu 150°C.
Apa yang terjadi? Logika material tidak bisa dibohongi. Tanpa preheat yang tepat, laju pendinginan menjadi terlalu cepat. Akibatnya, muncul retak dingin (cold cracking) di zona pengaruh panas (HAZ). Secara visual, lasan mungkin terlihat mulus, namun di dalamnya tersimpan “bom waktu” yang siap pecah saat diberi beban.
2. Bermain “Feeling” dengan Amperage dan Voltage
Seringkali, welder menaikkan amperage melebihi batas maksimal di WPS agar proses pengelasan lebih cepat cair dan selesai. Alasannya sederhana: “Biar cepat tembus.”
Dampaknya? Panas berlebih (excessive heat input) akan merusak sifat mekanis logam dasar. Struktur butiran logam menjadi kasar, yang menurunkan ketangguhan (toughness) hasil lasan. Sebaliknya, jika amperage terlalu rendah karena takut bolong, risiko lack of fusion (las tidak menyatu sempurna) akan menghantui hasil uji NDT (Non-Destructive Test).
3. Mengabaikan Jenis dan Kondisi Elektroda
WPS menentukan jenis elektroda secara spesifik (misalnya E7018 yang bersifat low hydrogen). Kesalahan umum terjadi ketika welder menggunakan elektroda yang sudah lembap karena tidak disimpan dalam oven sesuai instruksi, atau bahkan mengganti seri elektroda hanya karena stok yang ditentukan sedang habis di gudang.
Konsekuensinya? Elektroda low hydrogen yang terpapar udara terbuka akan menyerap kelembapan. Saat digunakan, hidrogen ini akan terjebak dalam logam las dan menyebabkan porositas atau hydrogen-induced cracking. Ingat, WPS bukan sekadar saran belanja, tapi jaminan integritas kimiawi.
4. Kecepatan Tangan (Travel Speed) yang Tidak Stabil
WPS biasanya memberikan rentang kecepatan jalan (travel speed). Welder yang terlalu terburu-buru atau justru terlalu lambat akan menghasilkan heat input yang tidak konsisten.
- Terlalu cepat: Hasil lasan kurus, penetrasi dangkal, dan risiko undercut.
- Terlalu lambat: Penumpukan logam las berlebih (overlap) dan distorsi material yang parah.
5. Salah Mengatur Aliran Gas Pelindung (Shielding Gas)
Pada proses seperti GMAW atau GTAW, debit aliran gas sangatlah krusial. Kadang welder merasa aliran 5 liter/menit sudah cukup padahal WPS meminta 15 liter/menit, atau justru terlalu besar hingga menyebabkan turbulensi.
Hasilnya? Perlindungan kawah las menjadi tidak maksimal. Udara luar akan bereaksi dengan logam cair, menciptakan lubang-lubang kecil (porositas) yang membuat hasil lasan tampak seperti spons.
Baca Juga: “Kenapa Welder Wajib Paham WPS, Bukan Sekadar Bisa Ngelas”
Mengapa Mengikuti WPS Itu Wajib?
Mengikuti WPS bukan berarti meragukan skill seorang welder. Sebaliknya, WPS adalah alat bantu untuk memastikan bahwa hasil kerja keras Anda memenuhi standar keamanan internasional.
Kerugian jika tidak mengikuti WPS:
- Biaya Perbaikan (Repair): Melakukan grinding dan las ulang memakan biaya 3 kali lipat lebih mahal.
- Reputasi: Gagal dalam uji Radiography (RT) atau Ultrasonic (UT) akan menurunkan kredibilitas welder dan perusahaan.
- Keselamatan: Dalam proyek jembatan atau bejana tekan, satu titik las yang gagal bisa berakibat fatal pada nyawa manusia.
Kesimpulan
Profesionalisme seorang welder tidak hanya diukur dari kerapihan manik lasnya, tetapi dari kedisiplinannya mengikuti prosedur. WPS dibuat berdasarkan riset dan uji laboratorium yang panjang—jangan biarkan feeling sesaat merusak integritas struktur yang Anda bangun.
Jadilah Welder Profesional yang Melampaui Sekadar “Bisa Mengelas”
Menguasai teknik adalah satu hal, tetapi memahami dan patuh pada standar WPS adalah hal yang membedakan welder amatir dengan profesional berstandar industri. Jangan biarkan karier Anda terhenti karena minimnya pemahaman teknis.
Tingkatkan kompetensi Anda melalui Pelatihan dan Sertifikasi Welder di Welding Hub Indonesia. Kami bantu Anda memahami “kitab suci” pengelasan secara mendalam agar setiap hasil lasan Anda diakui kualitasnya.
Untuk informasi jadwal pelatihan terdekat dan pendaftaran, hubungi Kami via Whatsapp 08129-7777-467
Leave a Reply